Monday, November 19, 2007

Selamat tinggal Jakarta... selamat tinggal kesemrawutan.... bag.2

Lanjutin cerita perjalanan menuju tanah Temasek....

Setelah sampai di Imigrasi, sang petugas suruh saya isi kolom waktu tinggal di kartu imigrasi... saya langsung bilang kalau saya akan bekerja selama setahun, dia minta surat in-approval EP saya. Setelah beberapa saat dia membaca surat itu kemudian memanggil rekannya dan berbincang2, surat dibaca rekannya, setelah menunggu sekitar 2 menit akhirnya sang petugas bilang bahwa saya harus segera mengurus EP akan tetapi masih bisa untuk kembali ke Indonesia... nggak ngerti juga maksudnya gimana tapi saya ngangguk saja supaya cepat.

Keluar dari pelabuhan, ternyata Harbourfront terhubung dengan Mall dan pertokoan. Saya langsung kontak dosen saya yang akan ketemu di NTU, saya bilang kalau saya baru akan berangkat dari pelabuhan dengan taksi. Tempat taksi saya temukan dengan mengikuti petunjuk didalam Mall. Saya naik salah satu taksi, karena sudah malam saya lupa nama taksinya. Lucunya taksi ini tidak mau saya duduk depan, saya harus duduk dibelakang.

Sang supir sudah agak tua, dia bicara logat Singapur yang kolot banget, saya sulit ngikutinya, jadi sepanjang perjalanan saya hanya yes2 saja. Sesampainya di komplek kampus NTU saya kesulitan mencari lokasi gedung apartemen yang akan jadi tempat tinggal sementara saya, setelah berputar2 sekitar 3 menit dan bolak balik menelpon dosen , akhirnya saya putuskan untuk turun disatu gedung dan menunggu dosen untuk jemput saya.

Lumayan lama menunggu, sekitar 20 menit akhirnya Bu dosen datang, seminggu lalu dia masih tinggal di komplek apartemen ini, tetapi sekarang da sudah sewa apartemen sendiri yang berjarak sekitar 30 menit dari NTU. Langsung saja beliau menunjukkan gedung, lantai, ruang dan kamar saya. Akhirnya saya bisa taruh barang saya ditempat yang aman, kamarnya sangat nyaman dengan fasilitas AC, internet dan perabot lengkap (lemari, meja, kursi). Diluar kamar ada fasilitas dapur, mesin cuci, ruang keluarga, dan kamar mandi, totalya ada 5 kamar tapi pada hari itu hanya kamar saya saja yang terisi. Fasilitas lengkap ini impas denga harga yang cukup mahal, yakni $25 per-hari.

Setelah barang saya tinggal dikamar, Bu Dosen menunjukkan kantin. Perut emang udah kelaperan dari sejak di taksi tadi. Sesampainya dikantin saya langsung menuju counter makanan muslim untuk pesan satu porsi nasi Briani seharga $2.5. Sembari berjalan saya dan Bu dosen bincang2 tentang kondisi di NTU dibandingkan dengan kampusnya di Sendai Jepang, menurut beliau kondisinya jauh lebih baik di Sendai tapi di NTU jauh lebih baik dari ITB.... he he... kebayang betapa rendahnya standar ITB, pantas saja dosen saya ini malas pulang ke ITB.

Akhirnya didepan gedung apartemen beliau pamit, saya berterimakasih dan langsung menuju kamar nan indah. Nasi briani hangat dengan ayam kari saya santap bersamaan dengan menikmati internet broadband gratis.... puaaasss...

Sibadu,
Posted by Sibadu at 15:23:47 | Permanent Link | Comments (0) |

Sunday, November 18, 2007

Selamat tinggal Jakarta... selamat tinggal kesemrawutan.... bag.1

Sebenernya saya mau tulis pengalaman berangkat ke Singapura dari Jakarta lewat Batam.

Pertama, Jakarta-Batam terbang dengan AirAsia didelay 3 jam. Di dalam pesawat duduk disamping anak muda berpakaian sangat norak (jaket kuning cerah , celana panjang biru bergaya hiphop), setelah saya sapa ternyata dia berbicara logat melayu dan tampak kurang pede, kemungkinan TKI.

Sampai di bandara Hang Nadim disambut hujan, saya langsung ambil komper dan menuju keluar bandara. Berjalan kearah kanan disana ada space untuk mencari taksi. Taksi berjejer cukup padat ditepi bandara, salah satunya mengacungkan jari tanda menawarkan jasanya, langsung saya dekati. Dengan logat Sumatra yang ngasal saya bilang padanya bahwa saya mau ke Pelabuhan Batam Center, dia langsung kasih harga Rp. 70 ribu, wah ini cocok dengan cerita2 yang saya baca dibeberapa blog, langsung saya ok dan naik. Sang supir saya ajak ngobrol dengan logat sumatra, ternyata dia orang padang sama seperti kampung ayah saya. Cerita terus bergulir dan ternyata sang Supir yang mengaku hanya llusan STM itu pernah bekerja di beberapa perusahan pengeboran minyak bagian pemasangan pipa, dia juga cerita tentang kawannya yang pintar mencari orang hilang dan sering membantu polisi tapi nasibnya sekarang sedang menganggur.

Sekitar 30 menit saya sampai di Batam Center, sesampainya disana didepan pintu saya didekati orang yang berusaha menyapa saya dengan logat melayu yang nggak jelas, sepertinya dia tanya apa saya itu seorang pelaut, saya bilang tidak2 saja, dan dia tanya apa saya punya LG... makin nggak jelas ngomongnya lagi2 saya jawab tidak dan saya langsung masuk. Didalam saya mencari2 loket tiket, berjalan kearah kanan ada beberapa loket tiket perusahaan2 feri, saya langsung hampiri loket penguin ferry, belum saya bicara sang kasir langsung berkata "Singapur..." saya iya saja, dia minta passport, tanya one-way atau pulang-pergi saya beli yang pulang pergi $20 SGD. Setelah saya dapatkan tiket, lembar imigrasi dan tanda pembayaran pajak pelabuhan saya langsung menuju loket imigrasi untuk membayar fiskal yang berada disebelah kiri dekat pintu masuk pelabuhan. Sesampainya diloket fiskal saya kaget ternyata uang rupiah saya tinggal Rp.400 ribu sementara harga fiskal Rp500 ribu. Saya bergegas menuju ruang ATM BCA tapi lagi2 celaka karena kartu ATM saya tinggal di Jakarta, dalam kebingungan ada seorang Bapak dengan seragam pegawai yang mendekati saya dan bertanya masalah saya, saya cerita saja kalau kekurangan uang. Lucunya si Bapak itu menawarkan pengurusan fiskal seharga Rp 350 ribu lewat beliau, saya tolak baik2 tawarannya dan menuju money changer untuk menukar persediaan SGD dengan Rp200 ribu. Akhirnya saya urus fiskal dan langsung menuju check-in bagasi di-bawah eskalator dengan membayar kalau tidak salah Rp5 ribu.

Saya masuk kapal, ini pertama kalinya saya masuk kedalam sebuah ferry, ternyata didalam ferry sangat nyaman dan santai, ada bar yang jual makanan/minuman. Saya langsung duduk di barisan tengah, tapi saya sadar kalau dari sini view-nya kurang baik, jadinya saya bergeser kesamping. Tiba2 ada bule yang nyapa saya tanya apakah ferry ini ke Singapur... ya iyalah...dalam hati saya. Saya lihat si bule itu sendirian aja, dia duduk di kursi tepi jendela, sepertinya spot ini bagus untuk sightseing, saya pindah aja di meja yang sama dengan si bule. Sapa menyapa ternyata dia italiano yang mau pulang ke Itali setelah dinas di batam selama 3 minggu.

Ternyata bahasa Inggris si Itali ini juga belepotan, jadi saya nggak terlalu takut untuk asal ngomong juga he he... Kami hanya cerita2 santai saja, tentang cuaca, kebiasaan makan, dll. Dia heran dengan kebiasaan orang Indonesia yang makan semua dalam satu piring, sementara dia biasa dengan appetizer, main dish dan penutup, dia juga cerita tentang dinginnya kota Torino tempat tinggalnya yang bisa sampai 0 derajat sehingga mobil harus pakai AC panas. Saat di Batam dia dilarang untuk keluyuran sendirian sebab katanya tidak aman, yang mengagetkan ternyata menurutnya harga barang2 di Mall Batam sama dengan di Eropa, bahkan agak lebih mahal.

Setelah satu jam lebih perjalanan akhirnya kita sampai di Pelabuhan HarbourFront Singapura. Langsung menuju Imigrasi dan..... capek juga nulisnya.... nanti lanjut lagi ya...
Posted by Sibadu at 11:29:19 | Permanent Link | Comments (0) |